Hukum Bernazar Menurut Islam

Oleh:   A A   |   3/13/2015
Assalamualaikum sahabat Andi Rezpati, mumpung hari jum'at saya akan membahas sedikit pengetahuan saya mengenai bab Nazar yang dulu pernah dibahas oleh guru saya sewaktu saya masih duduk dibangku sekolahan. Nazar hanya sah apabila ia diucapkan dengan lisan. Hal ini menjadi kaedah am dalam hukum dan amalan. Sebagaimana hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا مَا لم تعْمل بِهِ أَو تَتَكَلَّم
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengampuni umatku apa yang dibisikkan dalam hati selama mana ia tidak dilaksanakan atau diucapkan” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Tidak ada lafaz yang khusus buat nazar. Cukup dengan lafaz yang menunjukkan ke arah melazimkan diri dengan sesuatu.
Contohnya: “Wajib atas saya untuk melakukan / tidak melakukan sekian sekian” atau “Saya berjanji dengan Allah untuk sekian sekian”; walaupun tidak disebut perkataan nazar itu sendiri.
Harus diingat, sebahagian ulama termasuk Syeikh Ibnu Uthaimin rahimahullah melihat bahawa hukum nazar adalah makruh bahkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiah cenderung ke arah pengharamannya. Ini berdasarkan hadis Ibnu Omar bahawa Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا تَنْذُرُوا فَإِنَّ النَّذْرَ لَا يُغْنِي مِنَ الْقَدَرِ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ من الْبَخِيل
“Janganlah kalian bernazar; sesungguhnya ia tidak bisa mempengaruhi takdir; ia hanya dilakukan oleh orang yang bakhil” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Ini hukum nazar secara am. Adapun kalau seseorang itu sudahpun bernazar, maka wajib untuknya melaksakannya selama mana ia adalah suatu yang baik atau harus. Sebagaimana sabda Baginda sallallahu alaihi wasallam:
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلا يَعْصِهِ
“Barangsiapa bernazar untuk taat kepada Allah maka hendaklah dia taat; dan barangsiapa bernazar untuk kemaksiatan maka janganlah ia melakukannya” (Riwayat Bukhari).
Adapun nazar maksiat, cukup dengan dia tidak menunaikan nazar itu kerana ia maksiat. Tidak ada kafarah yang wajib ke atasnya. Selain itu, bagi mereka yang melanggar nazar atau ingin menebus nazarnya, kafarah nazar adalah:
1. Memberi makan kepada sepuluh orang miskin; atau
2. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin; atau
3. Memerdekakan seorang hamba.
Sebagaimana yang disebut dalam Surah Al-Maa’idah, ayat 89.
(Rujukan Syarah Al-Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Uthaimin)
Ustaz Idris bin Sulaiman
Pegawai di Pejabat Kedutaan Arab Saudi
nah, demikian sedikit jabaran mengenai Nazar, para Sahabat Andi Rezpati pasi pernah kan melakukan nazar? kalau aku dulu pernah bernazar kayak gini sobat  "kalau aku lulus Ujian Aku Akan membersihkan Mushola" pas pengumuman hasil ujian alhamdulillah aku lulus sobat. dan akupun merasa senang hati membersihkan mushola karna kebersihan sebagian dari iman itu kata pak ustad. hehehe :D

Tampilkan Komentar