Inilah Perjuangan Kaum Muhajirin dan Anshar

Oleh:   A A   |   4/13/2015
Selamat pagi sahabat Andi Rezpati, pstingan kali ini saya akan memberikan sedikit cerita mengenai "Perjungan kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam Hijrah". Kaum Muhajirin berarti orang orang yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun, yang dimaksud di sini adalah orang orang mekah yang telah memeluk agama islam kemudian hijrah (pindah) bersama nabi Muhammad SAW. ke Madinah. Jika sobat membaca dengan cermat kisah perjuangan kaum muhajirin dan kaum anshar maka sobat akan mengetahui betul apa itu kaum muhajirin, apa itu kaum anshar, dan siapa  nama raja abessinia yang menerima kaum muhajirin dari mekah?

Nah, bila sobat andi rezpati penasaran yuk simak dengan seksama cerita ini. Kaum Muhajirin adalah sebutan untuk para pengikut Nabi Muhammad yang hijrah meninggalkan Mekkah, dalam rangka menjaga keimanan mereka dan menyelamatkan diri dari penindasan penduduk Mekkah, yang menentang dakwah Islam di kota tersebut.

Sedangkan Kaum Anshar adalah sebutan untuk suatu kaum yang menerima hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Sesampainya di Madinah mereka menyambut dia dan kaum Muhajirin dengan baik dan membantu perjuangannya. Hal ini karena sebelumnya telah ada sebagian penduduk Madinah yang mengunjungi Makkah untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad (peristiwa Baiat Aqabah). Secara bahasa Anshar berarti "Penolong" dan Kaum Anshar terdiri dari Bani Khazraj dan Bani Aus.
  • Kisah pertama saya awali dengan perjuangan kaum muhajirin dalam hijrahnya
Kepindahan umat islam tersebut terjadi karena mereka mendapat tekanan dan siksaan dari kaum kafir Quraisy setelah mereka beriman kepada risalah Nabi Muhammad Saw. Umat Islam Mekah meninggalkan negeri dan harta benda mereka karena mengikuti Nabi Muhammad Saw untuk hijrah ke mekah. Mereka memulai hidup baru dan berjuang bersama Nabi saw. untuk menegakkan agama Islam di tempat yang baru.

Dalam sejarahnya, kaum muslimin pernah hijrah sebanyak dua kali. Hijrah yang pertama kali di lakukan oleh umat islam adalah hijrah ke Abessinia atau Habsyi (sekarang Ethophia). hal tersebut terjadi karena para pengikut Nabi Muhammad saw, terutama yang baru memeluk agama Islam selalu mendapat siksaan dari kaum kafir Qurais.

Hijrah yang pertama dilakukan kaum muslimin adalah pada bulan rajab tahun 615 M.pada waktu itu 14 orang (10 laki laki dan 4 perempuan),berangkat hijrah ke habsyi. ,mereka yang berangkat antara lain Usman bin Affan bersama istrinya, Ruqayyah binti Muhammad, Abu Hazaifah bin Utbah bersama istrinya, Sahlah, Zubair bin Awwam, Mus'ab Salamah al Makhzum bersama instrinya, Abdullah bin Mas'ud. Keterangan lain menyebutkan bahwa jumlah kaum muslimin yang hijrah ke Habsyi akhirnya 1000 Orang karena beberapa orang lagi menyusul, termasuk di dalamnya Ja'far bin Abi Talib. Raja abessinia yang menerima kaum muhajirin dari mekah bernama Najasyi, yang beragama Nasrani. pada awalnya kaum Quraisy meminta kepada raja Najasyi agar mengembalikan para muhajirin ke Mekah. Namun. permintaan mereka di tolak. karena, raja Najasyi mengetahui bahwa para muhajirin adalah orang orang yang memeluk islam atas kemuan sendiri dan melakukan segala perbuatan baik. Raja Najasyi tidak mau menyerahkan para muhajirin kepada kaum kafir Quraisy

Peristiwa hijrah kedua dilakukan oleh kaum muhajirin bersama nabi Muhammad saw. dari mekah ke Madinah pada tahun 622M. dalam hijrah ini sebagian kaum muhajirin ada yang berangkat mendahului Nabi saw. dan ada juga yang menyusul kemudian. adapun yang berangkat bersama Nabi saw. hanyalah Abu Bakar As Shiddiq, lalu di susul oleh Ali bin Abi Thalib. Peristiwa hijrah dari Meka ke Madinah ini di awali dengan pengucapan Bait Aqabah I dan II oleh penduduk Madinah dari suku Aus dan Khazraj. pada Bait Aqabah I penduduk Madinah mengakui kerasulan Muhammad saw. dan berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, berzina, mencuri serta tidak melakukan perbuatan tercela lainya. Para penduduk madinah juga berjanji akan taat kepada Nabi saw. Nabi saw kemudian mengutus Mus'ab bin Umair menjadi pengajar para sahabar di madinah.

Pada tahun ke 12 Rasulullah menjadi nabi, datang lagi beberapa orang muslim madinah menunaikan ibadah haji ke mekah. selain untuk menunaikan ibadah haji, mereka juga mengundang Nabi saw. untuk datang ke madinah.mereka berjanji untuk memberi perlindungan kepada Nabi saw. hal inilah yang di kenal dengan Baiat Aqabah II
Atas dasar perjanjian keamanan di dalam Baiat Aqabah II itulah Nabi Muhammad saw mengizinkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. adapun kaum muslimin yang hijrah ke madinah berjumlah 200 orang. kaum muslimin yang hijrah ke madinah itu di sebut kaum muhajirin. orang yang pertama kali berangkat ke madinah adalah Abu Salamah bersama istrinya dan Ummu Salamah. selanjutnya di ikuti oleh kaum Muhajirin lainnya secara berangsur angsur. di Mekah ada beberapa orang sahabat yang masih tinggal, seperti Abu bakar, Ali bin Abi Talib, Sahib. dan Zaid bin Hasiriah.

Nabi Muhammad saw. hijrah tidak bersama rombongan yang berangkat lebih dahulu. Nabi Muhammad saw hijrah setelah menerima wahyu dari Allah surah An-nisa Ayat 75 tentang keharusan berperang di jalan Allah dan membela kaum lemah serta anak anak. Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi saw bersiap siap hijrah dari mekah menuju madinah.pada saat keberangkatan Nabi saw. kaum kafir Quraisy mengepung rumahnya dengan maksud membunuhnya. akan tetapi, Nabi saw dan Abu Bakar sempat bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari. setelah aman, Nabi saw dan Abu Bakar menuju Madinah. sesampainya di Madinah, Nabi saw dan Abu Bakar di sambut dengan rasa rindu dan gembira oleh penduduk Madinah.

Di Madinah kaum mujarin tidak memisahkan diri dari kaum ansar (penduduk asli Madinah) Kaum muhajirin dan ansar bersatu untuk membantu perjuangan Nabi saw, Pertalian antara kaum muhajirin dengan kaum ansar di perkuat oleh Nabi saw. dengan cara mempersaudarakan keduanya, sehingga ikatan persaudaraanya seperti saudara kandung.

  • Kisah selanjutnya adalah penyambutan kaum muajirin oleh kaum anshar 
Kaum Ansar adalah warga asli kota Madinah yang menyambut kaum Muhajirin dengan suka cita. Kedatangan kaum Muhajirin dan Nabi Muhammad saw. sangat dinanti-nanti oleh kaum Ansar. Kaum Ansar sangat merindukan seorang pemimpin yang adil dan bijaksana seperti Nabi Muhammad saw.

Kaum Ansar sangat senang menerima saudara-saudara seiman mereka, kaum Muhajirin. Mereka membagi tempat tinggal dan makanan dengan senang hati. Bahkan, mengutamakan segala sesuatu bagi kaum Muhajirin justru sebaliknya. An-Nu'man Ibnu Ajlan Al-Anshari mengatakan, "Kami pun menyambut kaum Muhajirin seraya yang mengatakan, 'Selamat datang dan hidup bersama kami. Sungguh, kalian akan aman dari kefakiran karena kami akan membagi harta dan rumah kami untuk kalian. "

Kaum Ansar juga membagi hasil panen mereka kepada kaum Muhajirin. Mereka mendatangi Rasulullah untuk melakukan separuh hasil panen kebun-kebun korma mereka, namun Rasulullah meminta agar mereka memberi kaum Muhajirin untuk turut serta hasil panen mereka seperlunya saja. Bahkan, kaum Ansar sempat ingin menghibahkan setiap kelebihan mereka kepada Rasulullah saw. "Jika kamu menghendaki, ambillah rumah-rumah kami," kata mereka kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. membangun tempat tinggal untuk para sahabatnya di tanah-tanah yang telah dihibahkan kaum Ansar dan menentukan tanah itu bukan milik siapa pun.

Sa'ad ibn Rabi'ah adalah seorang Ansar. Sementara Abdurrahman ibn 'Auf adalah seorang Muhajirin. Suatu saat Sa'ad mengatakan kepada Abdurrahman, "Aku adalah orang terkaya dari kaum Ansar. Karenanya saya akan membagi separuh hartaku. Aku juga memiliki dua isteri, maka pilihlah mana yang paling menarik untukmu di antara kedua. Sebutkan namanya, maka aku akan mentalaknya. Jika 'iddahnya sudah habis, nikahilah dia! "

Tawaran itu dijawab Abdurahman, "Semoga Allah memberkahimu atas keluarga dan hartamu. "Lalu kaum Ansar menunjukkan kepada Abdurrahman pasar Bani Qainuqa. Begitulah, akhirnya Abdurrahman selalu kembali dari pasar itu dengan membawa keuntungan dari berjualan minyak samin dan keju.

Rasa kesetiakawanan yang diusung kaum Ansar begitu mengagumkan. Adanya solidaritas, persahabatan, dan kebersamaan seperti yang mereka lakukan. Bahkan, diatas semua yang telah diberikan, mereka tidak keberatan kembali apa-apa yang telah mereka hibahkan. Hal itu terbukti saat pasukan Rasulullah saw. berhasil mengusir Bani Nadhir dari Madinah. Kaum Ansar tidak mendapat bagian dari rampasan perang sedikitpun. Ummul A'la Al-Anshari meriwayatkan, yaitu rampasan perang dari Bani Nadhir, Rasulullah saw. panggil Tsabit ibn Qais. "Datangkanlah kaummu kepadaku," kata Rasululllah. Tsabit bertanya, "Kaum Khazraj-kah?" "Seluruh kaum Ansar!" Tegas Rasulullah saw.

Maka Tsabit memanggil suku Aus dan Khazraj. Setelah seluruh kaum Ansar hadir, Rasulullah memuji Allah dan memakaikan kebaikan-kebaikan kaum Ansar yang telah memberikan tempat tinggal dan harta benda mereka kepada kaum Muhajirin. Juga tentang sifat mereka yang selalu mendahulukan kaum Muhajirin pribadi mereka sendiri. Lalu Rasulullah bersabda, "Jika kalian suka, aku akan tambah harta yang dititipkan Allah kepadaku dari Bani Nadhir (harta rampasan) ini untuk kalian (kaum Ansar) dan kaum Muhajirin. Seperti bagian kaum Muhajirin adakah untuk biaya hidup dan tempat tinggal yang kalian tanggung selama ini. Atau, kalau kalian setuju, aku akan memberikan bagian mereka semuanya, dan setelah itu mereka akan keluar dari rumah-rumah kalian. "

Mendengar menawarnya, Sa'ad ibn Ubadah dan Sa'ad ibn Mu'adz mengatakan, "Ya Rasulullah, Engkau bagikan saja semua harta rampasan itu kepada Muhajirin dan biarkan mereka tetap tinggal di rumah-rumah kami seperti saat ini."

Dan seluruh kaum Ansar yang hadir mengamini ucapan dua orang itu. Mereka mengatakan, "Kami rela menerima keputusan itu, ya Rasulullah." Rasulullah saw. pun mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Ansar dan keturunannya."

Lalu Rasulullah atas semua harta rampasan perang itu secara merata kepada kaum Muhajirin. Karena kaum Ansar, mereka tidak mendapatkan bagian, kecuali dua orang, yaitu Abu Dujanah dan Sahl ibn Hunaif yang sangat membutuhkan. Sikap kaum Ansar itu sangat membekas dalam jiwa kaum Muhajirin. Mereka menang keutamaan kaum Ansar itu di hadapan Rasulullah saw. "Wahai Rasulullah, kami tidak pernah mendatangi kaum yang sedermawan dan begitu setiakawan melampaui kaum Ansar. Mereka sudah mencukupi kebutuhan hidup kami dan mengikutsertakan kami dalam setiap kegembiraan mereka. Karena itu, kami khawatir semua pahala Allah akan jatuh kepada mereka.

"Rasulullah melihat. bersabda, "tidak. Niscaya kalian akan menghasilkan pahala dari Allah, yaitu selama kalian tetap memuji mereka dan mendoakan mereka kepada Allah. " Di Madinah, Nabi Muhammad bersama-sama kaum Muhajirin dan kaum Anshar membangun sebuah masjid yang diberi nama Quba, yang berfungsi untuk melakukan semua kegiatan ibadah. Setelah dibangunnya masjid Quba tersebut, maka Nabi Muhammad saw saw. bangunan masjid yang kedua, yaitu masjid Nabawi di tengah pusat kota Madinah, Yasrib (sekarang dikenal dengan nama Madinah al-Munawarah, yang berarti kota yang bercahaya).

Kemudian Rasulullah mengikat kaum Muhajirin dan kaum Ansar dengan ikatan persaudaraan yang siap untuk mempererat persatuan umat Islam agar tidak terjadi permusuhan dari mereka. Persaudaraan itu diikat atas dasar aqidah agama.

Tampilkan Komentar