Macam macam Tarian di Indonesia

Oleh:   Ahmad Andi Andriansah Ahmad Andi Andriansah   |   4/18/2015
Selamat pagi sahabat Andi Rezpati, pada postingan kali ini saya akan menjelaskan beberapa pengertian dari sebuah Tarian yang berada di Indonesia, apa yang dimaksud dengan seni tari? Seni tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, ungkap perasaan, maksud, dan pikiran.

Pengertian tari tradisional adalah tari yang lahir di lingkungan keraton, hidup dan berkembang sejak zaman feodal, dan diturunkan secara turun temurun di kalangan bangsawan. Tari klasik umumnya memiliki beberapa ciri khas antara lain berpedoman pada pakem tertentu (ada standarisasi), memiliki nilai estetis yang tinggi dan makna yang dalam, serta disajikan dalam penampilan yang serba mewah mulai dari gerak, riasan, hingga kostum yang dikenakan. Beberapa contoh tari tradisional yang masuk dalam kategori tari klasik antara lain tari bedaya, srimpi, lawung ageng, lawung alit, Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, Bandayuda, Palguna-palgunadi, Retna Tinanding, dan tari Srikandi Bisma. Berikut ini ciri ciri tari tradisional
  1. gerakannya lincah dan luwes. 
  2. mempunyai arti di setiap gerakan/pakaian. 
  3. mempunyai nilai keagamaan, kepercayaan/animisme. 
  4. tarian mengikuti melodi alat musik tradisional. 
  5. setiap tarian lebih banyak yg berpasangan 
Contoh tari klasik atau tradisional

Tari Serimpi 
Adalah tarian tradisional dari daerah Yogyakarta. Asal mulanya, tarian serimpi ini hanya digunakan untuk acara pergantian raja di istana Jawa Tengah. Tarian ini biasanya dimainkan oleh 4 orang penari wanita. Ada makna dibalik empat penari itu, yakni unsur api, angin, air, dan bumi.

Tari Kecak 
Siapa yang tidak mengetahui tarian kecak? Semua pasti sudah tahu. Tari kecak adalah tarian dari daerah Bali. Tarian ini menjadi ciri khas dari daerah Bali. Tari Kecak menceritakan tentang Ramayana, penarinya adalah laki-laki. Tarian kecak ini adalah karya dari Wayan Limbak dan Pelukis Jerman bernama Walter Spies tahun 1930. 

Tari Lilin 
Adalah tarian khas dari daerah Sumatera Barat. Tari tradisional dari Sumatera Barat ini berasal dari istana pada zaman dahulu. Para penari tarian ini menggunakan piring kecil yang terdapat lilin menyala diatasnya. Tarian ini biasa dimainkan pada malam hari. Menurut sejarah yang berkembang di masyarakat, tarian ini bermula dari kisah seorang gadis yang telah ditinggalkan oleh tunangannya. 

Tari Bali dipersembahkan pada pura.
Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan & keanekaragaman suku bangsa & budaya Indonesia. Terdapat lebih menurut 700 suku bangsa di Indonesia: bisa terlihat dari akar budaya bangsa Austronesia dan Melanesia, ditentukan oleh banyak sekali budaya menurut negeri tetangga di Asia bahkan efek barat yg diserap melalui kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri; Di Indonesia masih ada lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Tradisi antik tarian & drama dilestarikan pada aneka macam sanggar & sekolah seni tari yang dilindungi sang pihak keraton atau akademi seni yang dijalankan pemerintah.

Untuk keperluan penggolongan, seni tari di Indonesia bisa digolongkan ke dalam berbagai kategori. Dalam kategori sejarah, seni tari Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era: era kesukuan prasejarah, era Hindu-Buddha, dan era Islam. Berdasarkan pelindung & pendukungnya, bisa terbagi pada 2 kelompok, tari keraton (tari istana) yg didukung kaum bangsawan, & tari rakyat yang tumbuh menurut rakyat kebanyakan. Berdasarkan tradisinya, tarian Indonesia dibagi dalam dua kelompok; tari tradisional dan tari pada masa ini.

Era Sejarah
  1. Tari bercorak prasejarah atau tari suku pedalaman 
  2. Tari perang Papua menurut Kabupaten Kepulauan Yapen. 
  3. Tari Kabasaran, Minahasa Sulawesi Utara. 
Sebelum bersentuhan dengan dampak asing, suku bangsa di kepulauan Indonesia telah membuatkan seni tarinya tersendiri, hal ini tampak pada banyak sekali suku bangsa yg bertahan menurut efek luar dan menentukan hayati sederhana pada pedalaman, contohnya pada Sumatra (Suku Batak, Nias, Mentawai), pada Kalimantan (Dayak, Punan, Iban), pada Jawa (Badui), Sulawesi (Toraja, Minahasa), Kepulauan Maluku dan Papua (Dani, Asmat, Amungme).

Banyak pakar antropologi percaya bahwa tarian di Indonesia berawal dari gerakan ritual & upacara keagamaan. Tarian semacam ini umumnya berawal dari ritual, seperti tari perang, tarian dukun untuk menyembuhkan atau mengusir penyakit, tarian untuk memanggil hujan, dan berbagai jenis tarian yg berkaitan dengan pertanian misalnya tari Hudoq suku Dayak. Tarian lain diilhami oleh alam, misalnya Tari Merak dari Jawa Barat. Tarian jenis purba ini umumnya menampilkan gerakan berulang-ulang misalnya tari Tor-Tor suku Batak menurut Sumatra Utara. Tarian ini jua bermaksud untuk membangkitkan roh atau jiwa yg tersembunyi pada diri manusia, pula dimaksudkan buat menenangkan dan menyenangkan roh-roh tadi.

Beberapa tarian melibatkan syarat mental seperti kesurupan yg dipercaya menjadi penyaluran roh ke pada tubuh penari yg menari & beranjak di luar kesadarannya. Tari Sanghyang Dedari adalah kudus tarian istimewa di Bali, dimana gadis yg belum bergerak dewasa menari pada kondisi mental nir sadar yg dianggap dirasuki roh kudus. Tarian ini bermaksud mengusir roh-roh dursila menurut lebih kurang desa. Tari Kuda Lumping & tari keris juga melibatkan kondisi kesurupan.

Tari bercorak Hindu-Buddha
Lakshmana, Rama & Shinta dalam sendratari Ramayana di Prambanan, Jawa.
Dengan diterimanya kepercayaan dharma di Indonesia, Hinduisme dan Buddhisme dirayakan pada banyak sekali ritual kudus dan seni. Kisah epik Hindu misalnya celebrated Ramayana, Mahabharata & juga Panji sebagai wangsit buat ditampilkan dalam tari-drama yang disebut "Sendratari" menyerupai "ballet" pada tradisi barat. Suatu metode tari yg rumit dan sangat bergaya diciptakan & tetap lestari hingga kini , terutama pada pulau Jawa dan Bali.

Sendratari Jawa Ramayana dipentaskan secara rutin di Candi Prambanan, Yogyakarta; sementara snedratari yg bertema sama pada versi Bali dipentaskan pada berbagai Pura pada seluruh pulau Bali. Tarian Jawa Wayang orang mengambil cuplikan dari episode Ramayana atau Mahabharata. Akan namun tarian ini sangat tidak sinkron menggunakan versi India. Meskipun perilaku tubuh & tangan tetap dianggap krusial, tarian Indonesia tidak menaruh perhatian krusial terhadap mudra sebagaimana tarian India: bahkan lebih menampilkan bentuk lokal. Tari keraton Jawa menekankan kepada keanggunan & gerakannya yang lambat dan lemah gemulai, ad interim tarian Bali lebih dinamis & ekspresif. Tari ritual suci Jawa Bedhaya dianggap asal menurut masa Majapahit dalam abad ke-14 bahkan lebih awal, tari ini berasal menurut tari ritual yg dilakukan sang gadis perawan buat memuja Dewa-dewa Hindu seperti Shiwa, Brahma, & Wishnu.

Di Bali, tarian sudah sebagai bagian tidak terpisahkan berdasarkan ritual suci Hindu dharma. Beberapa ahli percaya bahwa tari Bali dari dari tradisi tari yg lebih tua menurut Jawa. Relief dari candi pada Jawa Timur dari abad ke-14 menampilkan mahkota dan hiasan ketua yang serupa dengan hiasan ketua yang dipakai di tari Bali kini . Hal ini menampilkan kesinambungan tradisi yang luar biasa yg tak terputus selama sedikitnya 600 tahun. Beberapa tari sakral dan kudus hanya boleh dipergelarkan pada upacara keagamaan tertentu. Masing-masing tari Bali mempunyai kegunaan tersendiri, mulai dari tari suci buat ritual keagamaan yg hanya boleh ditarikan di dalam pura, tari yang menceritakan kisah dan legenda terkenal, sampai tari penyambutan dan penghormatan kepada tamu misalnya tari pendet. Tari topeng jua sangat terkenal pada Jawa & Bali, umumnya mengambil kisah cerita Panji yang dapat dirunut dari berdasarkan sejarah Kerajaan Kediri abad ke-12. Jenis tari topeng yang terkenal adalah tari topeng Cirebon & topeng Bali.
  • Tari bercorak Islam
Tari Saman dari Aceh.
Sebagai agama yang tiba kemudiam, Agama Islam mulai masuk ke kepulauan Nusantara saat tarian orisinil & tarian dharma masih populer. Seniman & penari masih memakai gaya menurut era sebelumnya, menganti kisah cerita yg lebih berpenafsiran Islam & kostum yg lebih tertutup sinkron ajaran Islam. Pergantian ini sangat jelas pada Tari Persembahan dari Jambi. Penari masih dihiasi perhiasan emas yg rumit & raya misalnya dalam masa Hindu-Buddha, namun pakaiannya lebih tertutup sinkron etika kesopanan berbusana pada ajaran Islam.

Era baru ini membawa gaya baru dalam seni tari: Tari ZapinMelayu & Tari SamanAceh menerapkan gaya tari dan musik bernuansa Arabia & Persia, digabungkan dengan gaya lokal menampilkan generasi baru tarian era Islam. Digunakan pula indera musik spesial Arab & Persia, seperti rebana, tambur, & gendang yang sebagai alat musik primer pada tarian bernuansa Islam, begitu jua senandung nyanyian pengiring tarian yang mengutip doa-doa Islami.
Pendukung

Tari keraton
  1. Tari Golek Ayun-ayun, berdasarkan Keraton Yogyakarta 
  2. Tari Jaipongan, tari tradisi masyarakat Sunda 
Tarian pada Indonesia mencerminkan sejarah panjang Indonesia. Beberapa famili bangsawan; berbagai istana & keraton yg hingga sekarang masih bertahan pada berbagai bagian Indonesia menjadi benteng pelindung dan pelestari budaya istana. Perbedaan paling kentara antara tarian istana menggunakan tarian masyarakat tampak dalam tradisi tari Jawa. Strata masyarakat Jawa yg berlapis-lapis dan bertingkat tercermin dalam budayanya. Jika golongan bangsawan kelas atas lebih memperhatikan pada kehalusan, unsur spiritual, keluhuran, dan keadiluhungan; masyarakat kebanyakan lebih memperhatikan unsur hiburan dan sosial berdasarkan tarian. Sebagai akibatnya tarian istana lebih ketat & mempunyai seperangkat anggaran dan disiplin yg dipertahankan berdasarkan generasi ke generasi, sementara tari warga lebih bebas, dan terbuka atas banyak sekali pengaruh.

Perlindungan kerajaan atas seni dan budaya istana umumnya digalakkan sang pranata kerajaan sebagai penjaga & pelindung tradisi mereka. Misalnya para Sultan dan Sunan menurut Keraton Yogyakarta & Keraton Surakarta populer menjadi pencipta aneka macam tarian keraton lengkap menggunakan komposisi gamelan pengiring tarian tersebut. Tarian istana jua masih ada pada tradisi istana Bali dan Melayu, yg bisanya—seperti pada Jawa—jua menekankan pada kehalusan, keagungan & gengsi. Tarian Istana Sumatra misalnya bekas Kesultanan Aceh, Kesultanan Deli pada Sumatra Utara, Kesultanan Melayu Riau, dan Kesultanan Palembang pada Sumatra Selatan lebih dipengaruhi budaya Islam, sementara Jawa dan Bali lebih kental akan warisan budaya Hindu-Buddhanya.

Tari warga 
Tarian Indonesia memberitahuakn kompleksitas sosial & pelapisan tingkatan sosial menurut masyarakyatnya, yang juga menunjukkan kelas sosial dan derajat kehalusannya. Berdasarkan pelindung & pendukungya, tari masyarakat merupakan tari yang dikembangkan dan didukung oleh warga kebanyakan, baik pada pedesaan maupun di perkotaan. Dibandingkan menggunakan tari istana (keraton) yang dikembangkan dan dilindungi sang pihak istana, tari warga Indonesia lebih dinamis, enerjik, dan nisbi lebih bebas dari anggaran yang ketat & disiplin tertentu, meskipun demikian beberapa langgam gerakan atau sikap tubuh yang khas tak jarang permanen dipertahankan. Tari warga lebih memperhatikan fungsi hiburan dan sosial pergaulannya daripada fungsi ritual.

Tari Ronggeng & tari Jaipongansuku Sunda adalah model yang baik tentang tradisi tari rakyat. Keduanya adalah tari pergaulan yg lebih bersifat hiburan. Seringkali tarian ini menampilkan gerakan yg dianggap kurang pantas jika dilihat dari sudut pandang tari istana, akibatnya tari masyarakat ini acapkali disalahartikan terlalu erotis atau terlalu kasar dalam baku istana. Meskipun demikian tarian ini permanen berkembang subur pada tradisi rakyat Indonesia karena didukung sang masyarakatnya. Beberapa tari rakyat tradisional telah dikembangkan menjadi tarian massal dengan gerakan sederhana yang tersusun rapi, seperti tari Poco-poco dari Minahasa Sulawesi Utara, & tari Sajojo dari Papua.

Tari tradisional
Tari tradisional Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia. Beberapa tradisi seni tari misalnya; tarian Bali, tarian Jawa, tarian Sunda, tarian Minangkabau, tarian Palembang, tarian Melayu, tarian Aceh, & masih banyak lagi merupakan seni tari yang berkembang semenjak dahulu kala, meskipun demikian tari ini tetap dikembangkan hingga kini . Beberapa tari mungkin sudah berusia ratusan tahun, sementara beberapa tari berlanggam tradisional mungkin baru diciptakan kurang menurut satu dekade yg lalu. Penciptaan tari dengan ilmu tari baru, tetapi masih di dalam kerangka disiplin tradisi tari tertentu masih dimungkinkan. Sebagai hasilnya, muncullah beberapa tari ciptaan baru. Tari kreasi baru ini bisa merupakan penggalian kembali akar-akar budaya yg sudah sirna, penafsiran baru, ilham atau eksplorasi seni baru atas seni tari tradisional.

Sekolah seni tertentu di Indonesia misalnya Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) yg tersebar di Denpasar, Yogyakarta, dan Surakarta kesemuanya mendukung & menggalakkan siswanya buat mengeksplorasi & mengembangkan seni tari tradisional pada Indonesia. Beberapa festival eksklusif seperti Festival Kesenian Bali dikenal sebagai ajang ternama bagi artis tari Bali buat menampilkan tari kreasi baru karya mereka.

Tari pada masa ini
1. Tari terkini pengiring pagelaran musik
Seni tari pada masa ini Indonesia meminjam banyak impak menurut luar, seperti tari ballet dan tari terkini barat. Pada tahun 1954, 2 artis dari Yogyakarta — Bagong Kusudiarjo & Wisnuwardhana — merantau ke Amerika Serikat untuk belajar ballet & tari modern dengan banyak sekali sanggar tari disana. Ketika pulang ke Indonesia pada tahun 1959 mereka membawa budaya berkesenian baru, yang dalam akhirnya membarui arah, paras & konvoi & koreografi baru, mereka memperkenalkan gagasan seni tari sebagai aktualisasi diri pribadi sang artis ke pada seni tari Indonesia. 

Gagasan seni tari sebagai media ekspresi eksklusif artis sudah membangkitkan seni tari Indonesia, berdasarkan yang semula selalu berlatar tradisi sebagai aktualisasi diri seni, melalui gambaran oleh seniman terhadap aneka macam latar belakang seni dan budaya yang lebih luas dan kaya. Seni tari tradisional Indonesia pula banyak memengaruhi seni tari kontemporer di Indonesia, misalnya langgam tari Jawa berupa pose & perilaku tubuh serta keanggunan gerakan tak jarang timbul pada pagelaran seni tari pada masa ini di Indonesia. Kolaborasi internasional juga dimungkinkan, misalnya kolaborasi seni tari Jepang Noh dengan seni tari teater tradisional Jawa & Bali.

Tari terbaru Indonesia pula tak jarang ditampilkan dalam global industri hiburan dan pertunjukan Indonesia, misalnya tarian pengiring nyanyian, pagelaran musik, atau panggung hiburan. Kini menggunakan derasnya efek budaya pop dari luar negeri, terutama menurut Amerika serikat, beberapa tari modern misalnya tari jalanan (street dance) juga merebut perhatian kaum belia Indonesia. Demikian artikel yang bisa saya bagikan buat teman Andi Rezpati, semoga artikel tadi dapat bermanfaat untuk sahabat Andi Rezpati.

Tampilkan Komentar