Cara Mengetahui Penyebab Baby Blues

Oleh:   Ahmad Andi Andriansah Ahmad Andi Andriansah   |   4/21/2017

Selamat pagi sahabat Andi Rezpati, pada pagi hari ini saya akan membahas mengenai Penyebab Baby Blues. Kebahagiaan setelah kelahiran anak akan hilang akibat depresi yang melanda. Gangguan depresif khas dialami oleh ibu baru yang disebut oleh para ahli sebagai sindrom pascamelahirkan, yang mungkin lebih cenderung mendengar istilah baby blues.

Baby blues bisa terjadi kapan saja, tapi umumnya sekitar satu sampai tiga minggu setelah kelahiran anak. Pada periode ini, Anda mungkin akan lebih mudah tersinggung atau bahkan mudah menangis tanpa alasan yang jelas. Appetite berubah, sementara Anda juga sangat mudah cemas atau susah tidur. Kebanyakan ibu menjadi sangat mudah frustasi saat berhadapan dengan anak-anak, dan cenderung menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menjadi ibu yang baik. Dalam kasus lain juga ada wanita yang sangat takut menahan bayinya karena takut menyakiti bayi atau dirinya sendiri.

Menurut para ahli, beberapa faktor psikologis dapat mempengaruhi penampilan bayi blues, mulai dari tekanan emosional hingga kepribadian ibu baru. Pertimbangkan beberapa hal yang bisa memicu timbulnya baby blues, dan cara mengatasinya:

1. Kehamilan tidak terencana
Tidak siap untuk memiliki keadaan emosional anak dapat mempengaruhi ibu hamil selama kehamilan dan setelah melahirkan, kata Sara Rosenquist, Ph.D., seorang psikolog dari Chapel Hill, North Carolina. Menurut penulis buku After the Stork: Panduan Pasangan untuk Mencegah dan Mengatasi Depresi Pasca melahirkan, Anda perlu mencoba untuk tidak terlalu fokus pada aspek negatif memiliki anak.

"Pilihan itu dianggap sebagai hadiah kehidupan anak, atau sebaliknya," kata Rosenquist lagi. Saling menukar pikiran dengan ibu lain, jadi Anda lebih positif dalam menyambut kelahiran bayi dalam keluarga.

2. Hubungan dengan pasangan bermasalah
Stres karena masalah dengan pasangan bisa mempengaruhi penampilan baby blues. "Ada masalah Anda bisa meningkatkan rasa kecewa," kata Rosenquist. "Sementara konflik tanpa henti dengan pasangan bisa menyebabkan depresi." Kedatangan anggota keluarga baru bisa dianggap sebagai masalah tambahan.

Untuk mengatasinya, sejak awal Anda harus mulai berkonsultasi dengan konselor pernikahan. Dengan begitu, Anda tidak memiliki energi dan waktu yang dihabiskan untuk hal negatif yang lebih siap untuk hal yang lebih besar, yaitu kelahiran anak.

3. Kurangnya dukungan keluarga
Pasangan yang tidak membantu merawat anak bisa membuat Anda putus asa untuk memiliki anak pada masa-masa awal. Demikian juga jika Anda tidak memiliki teman dekat atau anggota keluarga yang bisa membantu merawat bayi. Padahal, dukungan besar dari masyarakat sekitar bisa membuat Anda merasa lebih kuat dan percaya diri dalam merawat bayinya.

Mulai membangun sistem pendukung sebelum bayi lahir, menurut profesor psikologi Michael O'Hara, PhD, dari University of Iowa, dapat membantu mengatasi masalah ini. Jika tidak ada teman yang tinggal di dekat Anda, cobalah untuk mulai berteman dengan ibu di daerah sekitar rumah. Atau, bergantung pada bantuan baby sitter.

4. Anda pernah mengalami sesuatu yang pahit
Perceraian atau kematian anggota keluarga dapat menambah risiko mengalami sindrom pascamelahirkan. Sebenarnya, perubahan drastis baru seperti pindah rumah juga bisa memberi efek serupa, menurut Maria Muzik, MD, dari University of Michigan Health System. Karena itu, disarankan agar ibu hamil menghindari perubahan hidup yang terlalu besar (yang tentunya disengaja) selama kehamilan dan setelah melahirkan. Jika bisa, tunda rencana pindah rumah sampai Anda merasa lebih stabil.

5. Anda seorang perfeksionis
Selalu mengharapkan segala sesuatu untuk menjadi sempurna bisa membuat seseorang begitu mudah frustasi padahal sebaliknya itu benar. Itulah sebabnya, menurut Kim Zittel, PhD, MSW, asisten profesor di bidang sosial Buffalo State College, New York, Anda memerlukan sedikit standar penurunan.

"Sang perfeksionis akan menuntut dirinya menjadi ibu yang sempurna. Dia juga mengharapkan pasangannya akan menjadi ayah yang patut dicontoh, dan anaknya adalah bayi yang manis seperti malaikat," kata Zittel lagi.

Jadi ini tidak tercapai, ibu akan mulai menyalahkan diri sendiri dan terjebak dalam depresi. Lebih baik, Anda mencoba untuk lebih realistis dan belajar menerima segala sesuatu dengan pikiran terbuka. Jadi Bagaimana Mengetahui Mengapa Baby Blues yang bisa saya bagikan kepada teman-teman saya Andi Rezpati, bolehkah saya membagikan semua itu berguna bagi anda dan jika menurut anda artikel ini bagus silahkan dan share ke teman anda. Demikian artikel mengenai Cara Mengetahui Penyebab Baby Blues, semoga artikel ini bisa bermanfaat buat sahabat Andi Rezpati, dan jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman atau saudara kalian.

Tampilkan Komentar