Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia

Oleh:   Ahmad Andi Andriansah Ahmad Andi Andriansah   |   4/04/2017

Selamat pagi sahabat andi rezpati, pada kesempatan kali ini saya akan mengulas sedikit informasi mengenai Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia. jumlah penderita rabun jauh atau Myopi terus meningkat dari waktu ke waktu. Di Amerika Serikat saja, dikurangi populasi berkacamata meningkat dari sekitar 25 persen pada tahun 1970 menjadi 42 persen pada awal tahun 2000.

Faktor genetik memainkan peran penting karena kadang-kadang sifat ini dapat diturunkan, tetapi bukan satu-satunya. Kemudian, gaya hidup perkotaan yang jarang meninggalkan rumah lebih sering kambing hitam untuk jarang melakukan kontak mata dengan sinar matahari.
Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia

Otak dan mata berkembang sangat lambat, sehingga perkembangannya masih sama dengan nenek moyang manusia yang hidup jutaan tahun yang lalu. Sinar matahari sangat mempengaruhi indra penglihatan karena masa depan manusia kegiatan yang lebih luar ruangan.

Sekarang di zaman modern, lebih banyak aktivitas manusia di dalam ruangan dan melihat cahaya buatan yang berasal dari lampu. Bedanya dengan intensitas cahaya matahari untuk memberikan efek pertumbuhan mata, terutama jarak antara lensa ke retina.

Karena cahaya yang relatif redup, berbagai komponen mata tidak berkembang dengan baik sehingga bayangan tidak jatuh tepat pada retina. Akibatnya jadi kabur visi dan harus dibantu dengan kacamata minus agar pandangan yang lebih terfokus.

Teori ini tidak hanya anggapan, karena telah terbukti dalam berbagai penelitian. Seperti salah satu dipublikasikan dalam jurnal Archives of Opthamology, melibatkan anak-anak berusia 6-7 tahun keturunan Cina yang tinggal di Australia dan Singapura.

Kedua populasi anak memiliki faktor genetik yang sama, dalam hal jumlah orang tua yang juga mengalami rabun jauh. Tapi penduduk yang tinggal di Singapura, jumlah anak-anak yang menderita rabuh jauh mencapai 29 persen atau 9 kali lebih banyak dari Australia.

Faktor membedakan antara keduanya adalah gaya hidup, karena itu anak-anak di Singapura kegiatan di luar ruangan kurang sering. Anak-anak di Singapura rata-rata hanya meninggalkan rumah 3 jam / minggu, sedangkan di Australia durasi 14 jam / minggu.

"Untuk mengurangi risiko mata minus, itu sangat mudah. ​​Biarkan anak-anak untuk bermain dan menghabiskan waktu lebih lama di luar rumah," kata Sandra Aamodt, seorang profesor biologi molekuler di Universitas Princeton, seperti dikutip dari NYTimes.

Tampilkan Komentar