Nifas Menurut Islam

Oleh:   Ahmad Andi Andriansah Ahmad Andi Andriansah   |   5/29/2017
Selamat pagi sobat andi rezpati, Darah nifas adalah darah yang keluar dari rahim setelah kondisi persalinan, atau sesudahnya juga bisa lebih awal dari sekitar dua hari sebelum melahirkan yang mengandung sakit (Menurut Syaikh ibn Utsaimin). Pada kesempatan ini saya akan berbicara tentang postpartum yang konsisten dengan Islam dan peraturan nakal menurut Islam. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: "Darah yang dilihat wanita saat dia mulai merasa sakit adalah persalinan." Dia sekarang tidak memberikan batasan 2 atau 3 hari. Dan yang berarti rasa sakit itu kemudian diikuti dengan bantuan persalinan. Jika sekarang tidak, maka itu bukan persalinan.

Murid berfluktuasi apakah panjang persalinan memiliki batas minimum dan maksimum. Menurut Syaikh Taqiyuddin dalam risalahnya pada periode waktu yang digunakan sebagai hyperlink kejahatan melalui pembawa syari'ah, tidak ada batasan minimum atau paling banyak. Misalkan seorang wanita mengungkapkan darah lebih dari empat puluh.60 atau 70 hari dan berhenti, maka itu adalah persalinan. Tapi jika terus berlanjut maka itu adalah darah yang kotor, dan jika demikian terjadi maka pembatasannya adalah 40 hari, karena ini adalah batasan yang tidak biasa seperti yang dikatakan dengan banyak hadis. "

Tapi jika darahnya terus-menerus keluar mendekati dia mustahadhah. Dalam kasus ini, izinkan dia kembali ke hukum wanita mustahadhah yang didefinisikan dalam kebangkrutan sebelumnya. Jika, tapi, gadis itu telah suci dengan berhentinya darah dia berada dalam keadaan suci, bahkan sebelum 40 hari. Untuk itu ia perlu mandi, berdoa, berpuasa dan bisa digauli via suaminya. Kecuali, jika berhentinya darah kurang dari satu hari maka itu tidak selalu suci. Hal ini disebut di Al-Mughni.

Bayi tidak dapat diatur kecuali gadis itu menawarkan persalinan ke bayi manusiawi. Seandainya dia mengalami keguguran dan janin berubah menjadi tidak manusiawi maka darah yang keluar dari sini berubah menjadi darah nifas lagi, tapi berubah menjadi hukuman karena darah penyakit itu. Karena itulah yang berlaku baginya adalah hukum gadis mustahadhah.

Hukum nakal pada prinsipnya setara dengan pedoman hukum menstruasi, kecuali dalam kasus berikut:


  • Pertama
Iddah Dihitung dengan kejadian perceraian, tidak lagi dengan menggunakan persalinan. Sebab jika perceraian jatuh sebelum isteri menawarkan iddahnya mulai bisa habis karena melahirkan sekarang bukan karena persalinan. Sedangkan jika perceraian jatuh setelah melahirkan, maka ia menunggu sampai haid sekali lagi, seperti yang sudah dijelaskan.


  • Kedua
Baligh. Masa baligh terjadi dengan menstruasi, sekarang tidak dengan melahirkan. Karena seorang gadis tidak mungkin bisa hami sebelum menstruasi, maka durasi baligh seorang wanita terjadi dengan munculnya menstruasi yang mendahului kehamilan.



  • Ketiga


Waktu ila '. Durasi menstruasi meliputi ila ', pada saat bersamaan dengan periode nifas tidak.

Ila 'yaitu, jika seorang suami bersumpah dia tidak akan lagi menjadi perantara untuk istrinya selamanya, atau selama lebih dari 4 bulan. Jika dia bersumpah begitu dan pasangan menuntut suami untuk menikahinya, maka sang suami diberi waktu 4 bulan sejak saat sumpah. Setelah periode yang tepat, sang suami sangat dibutuhkan untuk menggauli istrinya, atau perceraian atas permintaan istri. Dalam ila 'panjangnya selama empat bulan jika wanita tersebut meninjau ulang nifas, tidak lagi mengandalkan suami, dan dikirim ke empat bulan sepanjang masa nifas. Berbeda halnya dengan menstruasi, menstruasi masih dihitung terhadap suami.



  • Keempat


Pada saat menstruasi, jika perempuan suci sebelum masa ketergantungannya, maka suami juga bisa dan tidak dilarang menggaulinya. Sedangkan untuk persalinan, jika dia suci lebih awal dari 40 hari maka suami seharusnya tidak menggaulinya lagi, sesuai dengan yang terkenal di perguruan tinggi Hanbali.

Benar, menurut pendapat sarjana maksimal, suami tidak dilarang untuk mengiringi mereka. Karena mungkin tidak ada bukti syar'i bahwa ini dilarang jauh kecuali untuk riwayat yang disebutkan melalui Imam Ahmad dari 'Utsman bin Abu al-Ash bahwa pasangannya sampai di sini kepadanya sebelum empat puluh hari, lalu dia berkata:  “Jangan kau dekati aku !”.

Ucapan Utsman tidak menyiratkan bahwa suami dilarang menikahi istrinya karena bisa jadi waspadalah sikap waspada Ustman, jika hikunya tidak selalu aktual, atau rasa takut bisa menimbulkan perdarahan karena seks atau alasan lainnya. Kamu tahu.

  • Kelima


Darah haid jika yang lainnya berhenti lebih rendah mundur tapi tetap saja di dalam waktu tradisional, maka darahnya diyakini sebagai darah haid. Misalnya, seorang wanita yang biasanya menstruasi delapan hari, namun setelah 4 hari durasinya berhenti selama dua hari, kemudian datang lagi pada hari ketujuh dan 8; maka mungkin ada kepercayaan mutlak bahwa darah yang datang lagi adalah darah haid.

Sedangkan untuk darah nifas, jika berhenti sebelum 40 hari dan kemudian keluar lagi pada hari keempat puluh, maka darahnya tidak pasti. Oleh karena itu wajib bagi wanita untuk sholat dan berpuasa fardhu yang yakin waktunya tepat waktu dan melarang untuk dia apa yang dilarang untuk wanita yang sedang haid, kecuali untuk hal-hal yang wajib. Dan setelah yang suci, dia harus mengqadha 'apa yang dia lakukan di beberapa titik aliran darah keluar ini diragukan, ini adalah wajib diqadha' perempuan haid. Inilah pendapat para fuqaha yang terkenal di Sekolah Hanbali.

Faktanya adalah, jika darah lebih rendah kembali pada kemungkinan waktu tetap melahirkan maka termasuk persalinan. Jika sekarang tidak, maka darah haid. Kecuali darah keluar terus-menerus maka itu jauh istihadhah. Pendapat ini berada di dekat garis besar yang dicatat di Al-Mughni 'bahwa Imam Malik berkata: "Ketika seorang wanita mengungkapkan darah setelah dua atau tiga hari, yaitu dari penghentian, maka itu adalah persalinan. Jika sekarang tidak, itu mendekati darah menstruasi. "Pendapat ini sesuai dengan yang dipilih dengan bantuan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah.

Sebenarnya, ada kepercayaan diri mutlak seputar masalah darah. Namun, keraguan adalah faktor relatif, setiap orang berbeda dalam jumlah hitungan ini sesuai dengan pemahaman dan pengertiannya. Padahal Alquran dan Sunnah membawa bukti segalanya.

Allah sama sekali tidak mewajibkan seseorang untuk cepat atau tawaf dua kali, kecuali ada kesalahan dalam tindakan pertama yang tidak dapat diraih selain dengan membentuk iman. Sedangkan jika seseorang bisa melakukan kewajiban sesuai dengan kapasitasnya maka ia telah dilepas dari tanggungannya. Seperti yang Tuhan katakan:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan.. ” [Al-Baqarah/2: 286]

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu …” [At-Taghabun/64: 16]

Cukup sampai disini dialog mengertani teka-teki yang konsisten dengan Islam yang bisa saya sampaikan di website online andi rezpati, dengan sedikit keberuntungan diskusi ini bisa bermanfaat bagi teman dan rezpati terutama cewek-cewek. Jangan lagi lupakan persentase artikel ini keteman teman anda dan keluarga anda ya teman sehingga posting ini bisa bermanfaat bagi banyak manusia.

Tampilkan Komentar