Manfaat Berpacaran

Oleh:   Ahmad Andi Andriansah Ahmad Andi Andriansah   |   6/06/2017

Selamat pagi sahabat andi rezpati, pada postingan kali ini saya membahas mengenai manfaat berpacaran. Islam mengajarkan ta'aruf dengan saling mengenal, contohnya dengan saling mengobrol dan terbuka satu sama lain. Hingga pada saat yang tepat dan siap, segeralah kita melamar orang yang sudah lama dikasihi tersebut. Tidak seperti saat ini yang telah dilakukan kebanyakan orang pacaran, kemaksiatan menjadi hal biasa dan hal semacam itu dilakukan tanpa rasa malu lagi.Jika kita pikir, apa manfaatnya kita berpacaran? toh tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu, biaya, dan tenaga. 

Saat ini kita tahu sendiri bagaimana sebagian besar  pemuda zaman sekarang ini, bahkan seumuran anak Sekolah Dasar, Sekolah Menengah pertama,Sekolah Menengah Atas telah mengenal apa itu Pacaran. Pacaran adalah hal yg tidak dibenarkan sang kepercayaan  islam, namun ada hal yg lebih mulia yang dinamakan Ta’aruf atau saling mengenal antara satu & yg lainya. Jadi tidak terdapat istilah pacaran dalam kepercayaan  Islam.

Sebagian orang yg berpacaran niscaya nir jarang atau bisa dikatakan acapkali berduaan, berpegangan tangan, hingga melakukan perbuatan yg melewati batas. Coba dipikir, apa nir memalukan saat setiap hari dua orang yg masih belum muhrim tadi keluar berduaan, apalagi bila dengan poly pria yg berbeda atau bisa diklaim Mantan. Apalagi jika orang yang dirasa tulus tersebut dalam akhirnya nir mau buat ke melangkah ke jenjang yang lebih serius (menikah) & hanya mau menjalani kesenangan.

Kalau kita tanyakan kepada orang yg sudah berpacaran, poly menurut mereka yg beranggapan bahwa menggunakan berpacaran dapat memberi semangat atau motivasi buat selalu melakukan hal-hal yang positif. Dan kemungkaran dalam bentuk apakah yang mereka lakukan itu? Mari kita teliti lebih seksama tentang apa saja yang secara umum dikuasai dikerjakan sang orang yg sedang berpacaran:

#1. Saling memandang baik yang laki memandangi yg wanita ataupun kebalikannya. Yang dilarang di sini dan memang telah tidak terdapat keraguan lagi ialah melihat menggunakan menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat, karena ini adalah pintu bahaya & penyulut api. Sebab itu, terdapat ungkapan, “memandang adalah pengantar perzinaan”. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syauqi perihal memandang yg dilarang ini, yakni:

“Memandang (berpandangan) lalu tersenyum, lantas mengucapkan salam, kemudian bercakap-cakap, lalu berjanji, akhirnya bertemu”.

Lantaran itu jua, Nabi saw. Pernah memalingkan muka anak pamannya yg bernama al-Fadhl bin Abbas, berdasarkan melihat perempuan   khats’amiyah pada ketika haji, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-usang memandang wanita itu. Dalam suatu riwayat dianggap bahwa al-Fadhl bertanya kepada Rasulullah saw. “Mengapa engkau  memalingkan muka anak pamanmu?” Beliau saw. Menjawab, “Saya melihat seseorang pemuda dan seorang pemudi, maka aku  tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka”.
Dan Allah SWT melarang semua perbuatan yang menghantarkan kepada prbuatan zina. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.(Al-Isra’ : 32)
Apabila seorang wanita melihat laki-laki lantas timbul hasrat kewanitaannya, hendaklah ia menundukkan pandangannya. Janganlah ia terus memandangnya, demi menjauhi timbulnya fitnah, dan -bahaya itu akan bertambah bertambah besar lagi bila si laki-laki juga memandangnya dengan rasa cinta dan syahwat. Pandangan seperti inilah yang dinamakan dengan “pengantar zina” dan yang disifati sebagai “panah iblis yang beracun”, dan ini pula yang dikatakan oleh panyair :

كل الحوادث مبدأها من النظر #

 ومعظم النار من مستصغر الشرر
 Artinya: “Semua peristiwa (perzinaan) itu bermula dari memandang. Dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil
Dan jika kegiatan atau pekerjaan yang sedang Anda lakukan menuntut untuk melihat wanita tentunya selain perihal pacaran tadi, maka lakukanlah ketika darurat saja. Hendaknya anda bertakwa kepada Allah yang senantiasa mengawasimu. Apakah anda ridha orang lain melihat istri anda (misalnya), seperti pandangan anda terhadap istri orang lain.

#2. Yang sering kita temui adalah jalan berduaan ataupun dalam istilah anak muda sekarang biasa disebut “ngedate”. Hal ini sangat bertentangan sekali dengan sabda Rasulullah saw, “Seorang pria dan wanita tidak boleh berduaan, kecuali disertai mahramnya”.Karena jika tidak demikian bisa menimbulkan fitnah di antara mereka berdua. Dan hal ini diperkuat lagi dengan hadist Rasulullah saw. yang berbunyi,

ماخلا رجل بإمرأة إلا كان الشيطان ثلثهما 
Artinya: “Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita melainkan setanlah yang menjadi orang ketiga di antara mereka”.

#3. Berbicara dengan pujaan  hati selama belum ada ikatan yang menjadikannya halal. Dalam Al-Qur’an disebutkan :
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita lain, jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu tunduk (berlemah-lembut) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”.
(Al-Ahzab : 32)
Memang tidak dilarang berbicara dengan orang lain, seperti menjawab salam dan kepentingan lainnya, tapi yang dilarang hanyalah berbicara dengan sikap khudu’,yaitu berbicara lembut dan berlebihan atau tidak secukupnya. Sehingga, dapat mengundang syahwat setan kepada orang-orang yang tunduk pada godaan keduniaan.
Tapi ini bukan berarti perempuan   dibolehkan berbicara bebas tanpa batas dengan laki-laki  mana pun yang ia jumpai. Juga bukan sebagai legitimasi buat pria yg sering berbicara tiap hari dengan perempuan   yg beliau sukai. Lantaran hati nurani & perasaan kudus tiap perempuan   dan laki-laki  yang sehat pasti akan menolaknya. Apalagi, syariat Islam yg sudah kentara mengingkarinya.

Sahabat andi rezpati dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa berpacaran tidak ada dampak positif yang ditimbulkan, melainkan dampak negatif yang tidak kita terpikirkan sebelumnya.

Tampilkan Komentar